Mengenal Unsur-Unsur Puisi IV
4. Gaya Bahasa
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), pengertian gaya bahasa meliputi: 1 pemanfaatan atas kekayaan bahasa
oleh seseorang dalam bertutur atau menulis; 2 pemakaian ragam tertentu untuk
memperoleh efek-efek tertentu; 3 keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok
penulis sastra; 4 cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk
tulis atau lisan.
Gaya bahasa (dalam
hal puisi) berdasarkan langsung tidaknya makna, meliputi:
- Aliterasi
Aliterasi
adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama, baik di
awal, di tengah, maupun di akhir kata, frase atau kalimat. Biasanya
dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang dalam prosa, untuk hiasan atau untuk
penekanan. Misalnya : Takut titik lalu tumpah. Keras-keras kerak kena air lembut
juga.
- Asonansi
Asonansi
adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan vocal yang sama, baik di
awal, di tengah, maupun di akhir kata, frase atau kalimat. Biasanya
dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang dalam prosa, untuk memperoleh efek
penekanan atau sekedar keindahan. Misalnya: aku adalah wanitamu, aku adalah
kekasihmu, dan aku adalah kamu.
- Anastrof
Anastrof
atau inversi adalah semacam gaya bahasa retoris yang diperoleh dengan
pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat. Misalnya: Pergilah ia
meninggalkan kami, keheranan kami melihat perangainya.
- Apofasis atau preterisio
Apofasis
atau disebut juga dengan preterisio merupakan sebuah gaya di mana penulis atau
pengarang menegaskan sesuatu, tetapi nampaknya menyangkal. Berpura-pura
membiarkan sesuatu berlalu, tetapi sebenarnya ia menekankan hal itu. Misalnya :
Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan
ratusan juta rupiah uang negara.
- Apostrof
Apostrof
adalah semacam gaya yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada
sesuatu yang tidak hadir. Cara ini biasanya dilakukan oleh orator klasik. Dalam
pidato yang disampaikan kepada suatu massa, si orator secara tiba-tiba
mengarahkan pembicaraan langsung kepada sesuatu yang tidak hadir: kepada mereka
yang sudah meninggal, atau kepada barang atau objek khayalan atau sesuatu yang
abstrak, sehingga tampaknya ia tidak berbicara kepada hadirin. Misalnya : Hai
kamu dewa-dewa yang berada di surga, datanglah dan bebaskanlah kami dari belenggu
penindasan ini.
- Asindeton
Asindeton
adalah suatu gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat di mana beberapa kata,
frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung.
Misalnya : Kesesakan, kepedihan, kesakitan. Seribu derita detik-detik
penghabisan orang melepaskan nyawa.
- Polisindeton
Poliosindeton
adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asindeton. Beberapa kata,
frasa, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata
sambung. Misalnya: Dan ke manakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah
dan tak menyerah pada gelap dan pada dingin yang bakal merontokkan
bulu-bulunya?
- Kiasmus
Kiasmus
(chiasmus) adalah gaya bahasa yang berisi perulangan dan sekaligus juga
merupakan inversi hubungan antara dua kata dalam satu kalimat. Misalnya: Dia
menyalahkan yang benar, dan membenarkan yang salah.
- Elipsis
Elipsis
adalah suatu gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan
mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar,
sehingga struktur gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku.
Misalnya : Orang itu memukul dengan sekuat daya. (penghilangan objek: saya,
istrinya, ular, dan lain-lain)
- Eufemismus
Kata
eufemisme atau eufemismus diturunkan dari kata Yunani euphemizein yang berarti
“mempergunakan kata-kata dengan arti yang baik”. Secara gaya bahasa, eufemisme
adalah semacam acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan
orang lain, atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk mengganti acuan-acuan yang
mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan atau mensugesti sesuatu yang
tidak menyenangkan. Misalnya : Pikiran sehatnya semakin merosot saja
akhir-akhir ini ( =gila).
- Litotes
- Histeron proteron
Histeron
proteron adalah semacam gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang
wajar, misalnya menempatkan sesuatu yang terjadi kemudian pada awal peristiwa.
Gaya bahasa ini juga disebut hiperbaton. Misalnya : Kereta melaju dengan cepat
di depan kuda yang menariknya.
- Pleonasme dan tautologi
- Perifrasis
Sebenarnya
perifrasis adalah gaya bahasa yang mirip dengan pleonasme, yaitu mempergunakan
kata lebih banyak daripada yang diperlukan. Perbedaannya terletak dalam hal
kata-kata yang berlebihan itu dan sebenarnya dapat diganti dengan satu kata
saja. Misalnya : Jawaban bagi permintaan Saudara adalah tidak. (= ditolak).
- Prolepsis atau antisipasi
Prolepsis
atau antisipasi adalah semacam gaya bahasa di mana orang mempergunakan lebih
dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya
terjadi. Misalnya : Pada pagi yang naas itu, ia mengendarai sebuah sedan biru.
- Erotesis atau pertanyaan retoris
Erotesis
atau pertanyaan retoris adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam
pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan
penekanan yang wajar dan sama sekali tidak menghendaki adanya jawaban.
Misalnya: Terlalu banyak komisi dan perantara yang masing-masing menghendaki
pula imbalan jasa. Herankah Saudara kalau harga-harga itu terlalu tinggi?
- Silepsis dan zeugma
Silepsis
dan zeugma adalah gaya di mana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan
dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya
salah satu yang mempunyai hubungan dengan kata pertama. Dalam silepsis,
konstruksi yang dipergunakan itu secara gramatikal benar, tetapi secara
semantik tidak benar. Misalnya: Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya. Dalam
zeugma, yang dipakai untuk membawahi kedua kata berikutnya, sebenarnya hanya
cocok untuk salah satu kata itu (baik secara logis maupun secara gramatikal).
Misalnya : Ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.
- Koreksio dan epanortosis
Koreksio
dan epanortosis adalah suatu gaya yang berwujud, mula-mula menegaskan sesuatu,
tetapi kemudian memperbaikinya. Misalnya: Sudah empat kali saya mengunjungi
daerah itu, ah bukan, sudah lima kali.
- Hiperbol
Hiperbol
adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan
dengan membesar-besarkan sesuatu hal (jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya).
Misalnya : Kemarahanku sudah menjadi-jadi, hingga hampir-hampir meledak aku.
- Paradoks
Paradoks
adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan
fakta-fakta yang ada. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang menarik
perhatian karena kebenarannya. Misalnya : Ia mati kelaparan di tengah-tengah
kekayaannya yang berlimpah-limpah.
- Oksimoron
Oksimoron
adalah suatu acuan yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untuk mencapai
efek yang bertentangan, namun sifatnya lebih padat dan tajam dari paradoks.
Misalnya : Keramah-tamahan yang bengis.
- Persamaan atau simile
Persamaan
atau simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit, yaitu gaya bahasa yang
langsung menyatakan sesuatu yang sama dengan hal lain. Misalnya : Kikirnya
seperti kepiting batu. Alisnya bagai semut beriring.
- Metafora
Metafora
adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam
bentuk yang singkat dengan kias perwujudan. Misalnya : Pemuda adalah bunga
bangsa.
- Alegori, parabel, dan fabel
Alegori
adalah suatu cerita singkat yang mengandung kisahan. Dalam alegori, nama-nama
pelakunya adalah sifat-sifat yang abstrak, serta tujuannya selalu jelas
tersurat. Misalnya : Cerita tentang putri salju. Parabel adalah suatu kisah
singkat dengan tokoh-tokoh yang biasanya manusia, yang selalu mengandung tema
moral dan biasanya berhubungan dengan agama. Misalnya : Cerita tentang anak
yang durhaka kepada orang tuanya. Fabel adalah suatu metafora yang berbentuk
cerita mengenai dunia binatang, di mana binatang dapat bertingkah laku seperti
manusia. Misalnya : Cerita dongeng Sang Kancil.
- Personifikasi
Personifikasi
adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda mati atau barang
yang tak bernyawa seolah-olah dapat bertingkah laku seperti manusia. Misalnya :
Angin malam meraung seolah mengerti kegalauan hatiku.
- Alusi
Alusi
adalah semacam acuan yang menyugesti kesamaan antara orang, tempat, dan
peristiwa. Misalnya : Bandung adalah Paris Jawa kebanggaan Indonesia
- Eponim
Eponim
adalah suatu gaya di mana seseorang yang namanya begitu sering dihubungkan
dengan sifat tertentu. Misalnya : Anak itu masih kecil, namun kekuatannya
seperti Hercules.
- Epitet
Epitet
adalah semacam acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari
seseorang atau suatu hal. Misalnya : Sang putri malam sedang menunjukkan
sinarnya (=bulan).
- Sinekdoke
Sinekdoke
adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan bagian dari sesuatu hal
untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan
untuk menyatakan sebagian (totem pro parte). Misalnya : Setiap kepala dikenai
iuran Rp 1000,00 (pars pro toto). Indonesia memenangkan medali di kejuaraan
bulu tangkis dunia (totem pro parte).
- Metonimia
Metonimia
adalah gaya bahasa kiasan yang menggunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu
hal yang lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat, atau dengan kata
lain metonimia menyatakan sesuatu yang menyebutkan namanya secara langsung
untuk memahami hal yang dimaksud. Misalnya : Ia membeli sebuah chevrolet.
- Antonomasia
Antonomasia
adalah sebuah bentuk khusus dari sinekdoke yang berwujud penggunaan sebuah
epitet untuk menggantikan nama diri, atau gelar resmi, atau jabatan untuk
menggantikan nama diri. Misalnya : Yang mulia tidak dapat hadir pada rapat
kerajaan hari ini.
- Hipalase
Hipalase
adalah semacam gaya bahasa di mana sebuah kata tertentu digunakan untuk
menerangkan sebuah kata, yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata yang lain.
Misalnya : Ia berbaring di atas sebuah kasur yang gelisah. (yang gelisah adalah
manusianya bukan kasurnya).
- Ironi, sinisme, dan sarkasme
Ironi
adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan menggunakan hal lain yang
berlawanan dengan tujuan agar orang yang dituju tersindir secara halus.
Misalnya : Untuk apa susah-susah belajar, kau kan sudah pintar! Sinisme adalah
gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan menggunakan hal yang berlawanan
dengan tujuan agar orang tersindir secara lebih tajam dan menusuk perasaan.
Misalnya : Kau kan sudah hebat, tak perlu lagi mendengar nasihat orang tua
seperti aku ini! Sarkasme adalah gaya bahasa yang melontarkan tanggapan secara
pedas dan kasar tanpa menghiraukan perasaan orang lain. Misalnya : Sikapmu
seperti anjing dan sifatmu seperti babi!
- Satire
Satire
adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Bentuk ini tidak harus
bersifat ironis. Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia. Misalnya :
Jangan pernah berpikir kau adalah dewa, menghadapi masalah seperti ini pun kau
sudah kewalahan.
- Inuendo
Inuendo
adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Misalnya
: Setiap ada pesta ia pasti sedikit mabuk karena kebanyakan minum.
- Antifrasis
Antifrasis
adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna
kebalikannya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri. Misalnya :
Lihatlah sang raksasa telah datang (maksudnya si cebol).
- Pun atau paronamasia
Pun
atau paronamasia adalah kiasan dengan mempergunakan kemiripan bunyi yang berupa
permainan kata, tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya. Misalnya : “Engkau
orang kaya!” “Ya, kaya monyet!”.
Sumber:
Diolah dari Diksi dan Gaya Bahasa: Komposisi Lanjutan I. 2007. Gorys Keraf.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Komentar
Posting Komentar