Papan Pengumuman sebagai Media Literasi di Sekitar Kita
Saya percaya bahwa definisi literasi bukan sekadar mampu
membaca, menulis, dan berhitung. Saya juga percaya bahwa media literasi bukan
sekadar buku, koran, majalah, atau media cetak lainnya. Namun, bila kita mau menilik
sejumlah data yang ada selama ini, kita akan disuguhkan hasil yang cukup
memprihatinkan. Boleh jadi, penyebab adanya permasalahan tersebut adalah
kurangnya budaya literasi di sekitar kita.
Jika kita mencermati
laporan hasil UN yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemendikbud), terlihat bahwa terjadi penurunan rata-rata nilai Ujian
Nasional (UN) sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2018. Terlepas dari metode
ujian yang dilaksanakan, penurunan nilai ini terjadi bukan hanya pada tingkat
Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat saja. Bahkan, pada tingkat Sekolah
Menengah Atas (SMA) sederajat pun juga demikian. Padahal, kita hidup di zaman
globalisasi. Segala macam informasi belajar dapat dengan mudah kita akses
melalui internet. Bahkan, hampir semua orang memiliki komputer atau gadget. Hal
ini menunjukkan bahwa ada yang tidak beres dalam strategi atau metode belajar
yang dilakukan oleh siswa-siswi tersebut.
Selain
itu, terdapat Indikator Sosial Budaya oleh Badan Pusat Statistik
Nasional (BPS). Survei ini dilakukan sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2015.
Hasil survei tersebut menunjukkan penurunan pembaca surat kabar yang signifikan
menjadi sekitar 13,1 % pada tahun 2015. Sementara itu, jumlah penonton televisi
menunjukkan peningkatan yang signifikan menjadi sekitar 91,5% pada tahun 2015.
Hal ini menunjukkan bahwa koran sebagai media massa berbasis cetak sedikit demi
sedikit tergerus oleh keberadaan televisi. Televisi sebagai media massa
berbasis elektronik dinilai lebih mampu mengikuti setiap perkembangan informasi
terkini di zaman globalisasi ini.
Lalu, apa
hubungan antara gadget, literasi, dan hasil nilai Ujian Nasional (UN)? Menurut
saya, penggunaan gadget tanpa mengenal batasan dapat memengaruhi budaya literasi.
Bermain gadget dapat membuat penggunanya kehilangan kontrol diri sehingga
cenderung mengabaikan lingkungan sekitarnya. Selain itu, bermain gadget dapat
membuat penggunanya merasa asyik sendiri sehingga cenderung lupa waktu. Terlebih
lagi, kita selalu disuguhkan oleh aplikasi gadget bernuansa hiburan. Misalnya
game, Youtube, media sosial, dan sebagainya. Hal ini tentu sangat memengaruhi budaya
literasi atau waktu belajar siswa-siswi tersebut. Jika masalah ini dibiarkan
terus-menerus, maka bukan tidak mungkin siswa-siswi tersebut selalu memperoleh
hasil Ujian Nasional (UN) yang kurang memuaskan.
Kemudian, apa
hubungan antara televisi, literasi, dan hasil nilai Ujian Nasional (UN)?
Menurut saya, penggunaan televisi tanpa mengenal batasan juga dapat memengaruhi
budaya literasi. Menonton televisi dapat membuat penontonnya merasa asyik
sendiri sehingga cenderung lupa waktu. Selain itu, menonton televisi dapat
membuat penontonnya merasa santai sendiri sehingga cenderung malas untuk
melakukan sesuatu. Terlebih lagi, kita selalu disuguhkan oleh acara televisi
bernuansa hiburan. Misalnya sinetron, musik, kartun, film, dan sebagainya. Hal
ini tentu sangat memengaruhi budaya literasi atau waktu belajar siswa-siswi
tersebut. Jika masalah ini dibiarkan terus-menerus, maka bukan tidak mungkin
siswa-siswi tersebut selalu memperoleh hasil Ujian Nasional (UN) yang kurang
memuaskan.
Kondisi ini
diperparah lagi bila keluarga (orang tua dan kakak) tidak memberikan contoh
yang baik. Misalnya, keluarga malah kecanduan bermain gadget atau menonton
televisi. Padahal, anak selaku siswa atau siswi cenderung meniru kebiasaan
keluarga, terutama orang-orang yang di atas umurnya. Tanpa disadari, alam bawah
sadarnya akan terus melakukan hingga berakibat pada kecanduan. Di sinilah pentingnya
kesadaran keluarga dalam mendidik anak-anaknya. Orang tua tidak sekadar
“memerintah” atau “menyuruh”. Orang tua juga harus menjadi “guru” atau
“teladan” bagi anak-anaknya.
Oleh karena itu,
tidaklah berlebihan bila saya melihat fenomena penurunan nilai Ujian Nasional
sebagai akibat dari kurangnya budaya literasi di sekitar kita. Literasi
merupakan kunci keberhasilan dalam kegiatan belajar dan prestasi siswa-siswi. Dengan
kata lain, budaya literasi perlu mendapat perhatian lebih dari keluarga. Menurut
saya, budaya literasi akan menjadi lebih hidup bila turut melibatkan peran
masyarakat. Bagaimanapun, keluarga adalah guru pertama dalam menimba ilmu.
Masyarakat adalah lingkungan pertama dalam menggali pengalaman. Atas dasar
itulah, saya menyarankan papan pengumuman sebagai media literasi di sekitar
kita.
Memang tidak ada
salahnya membangun budaya literasi dari dalam rumah. Namun, tantangan yang
harus dihadapi makin besar, apalagi di dalam rumah terdapat gadget dan
televisi. Bukan tidak mungkin selama benda-benda itu berada di dalam rumah,
konsentrasi anak-anak menjadi terganggu. Oleh karena itu, alangkah baiknya bila
budaya literasi ini
dikembangkan di luar rumah. Dengan begitu, seluruh warga masyarakat turut
berpartisipasi dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa ini.
Mengapa harus papan pengumuman?
Setiap
daerah di Indonesia terbagi atas Rukun Tetangga (RT). Umumnya setiap RT
memiliki sejumlah papan pengumuman. Ada papan pengumuman yang berdiri sendiri,
ada pula papan pengumuman yang terpasang di dalam pos ronda. Dengan kata lain,
papan pengumuman menjadi semacam “perangkat wajib” bagi setiap RT di desa atau
kampung, sekalipun kita hidup di zaman modern ini.
Menurut
saya, papan pengumuman selaku media literasi mempunyai sejumlah kelebihan.
Pertama, keberadaan papan pengumuman dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Dengan adanya papan pengumuman, setiap warga dari berbagai kalangan, terutama
anak-anak akan membaca setiap informasi yang tertera di sana. Secara sadar atau
tidak sadar, kegiatan ini membuat pembacanya mengajak berdiskusi, berkomentar,
atau mengobrol dengan pembaca lain yang berada di tempat tersebut. Dengan
begitu, terjadilah sosialisasi dan pertukaran informasi sehingga kecerdasan
berpikirnya pun makin berkembang.
Kedua,
keberadaan papan pengumuman dapat meningkatkan kreativitas. Papan pengumuman
tidak sekadar dimanfaatkan sebagai media penyebaran informasi kegiatan RT. Oleh
karena itu, papan pengumuman juga diperlakukan seperti majalah dinding
(mading). Papan pengumuman dapat ditempeli koran atau bahan bacaan hasil karya
pribadi, seperti koran, cerpen, puisi, esai, atau opini. Secara sadar atau
tidak sadar, kegiatan ini membuat pembacanya, terutama anak-anak terinspirasi
sehingga menambah wawasan dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, kegiatan
ini dapat mengasah keterampilan penulis dalam menyusun suatu karya yang kreatif
dan bertanggung jawab. Dengan kata lain, anak-anak tidak sekadar berperan
sebagai pembaca, tetapi juga sebagai penulis.
Ketiga,
keberadaan papan pengumuman dapat meningkatkan kesadaran membaca. Umumnya papan
pengumuman di sekitar kita hanya dipasangi sejumlah informasi terkait suatu
kegiatan atau acara yang akan berlangsung. Hal inilah yang mengakibatkan papan
pengumuman menjadi terkesan “kaku” atau “formal”
dari segi
fungsi. Oleh karena itu, papan
pengumuman sebaiknya disajikan secara tertata dan menarik. Papan pengumuman
dapat ditempeli sejumlah bahan bacaan, seperti koran cerpen, puisi, esai, atau
opini. Dengan memperlakukan papan pengumuman seperti mading, bukan tidak
mungkin papan pengumuman akan selalu ramai didatangi masyarakat, terutama
anak-anak. Dengan kata lain, waktu luang mereka menjadi terisi dengan kegiatan
membaca sehingga wawasannya pun bertambah luas.
Gambar 2. Koran sebagai bahan bacaan untuk ditempelkan pada papan pengumuman (Dok. pribadi)
Bagaimana penerapan budaya literasi
melalui papan pengumuman?
Papan
pengumuman yang biasa terpasang di RT/RW–terutama di daerah saya dan
sekitarnya–selalu dijumpai dalam kondisi “menganggur”. Terlebih lagi, penyampaian
informasi acara atau kegiatan desa melalui pengeras suara atau megafon saat ini
dinilai jauh lebih efektif. Oleh karena itu, alangkah baiknya bila papan
pengumuman tersebut dipasangi bahan bacaan yang bermanfaat, seperti koran,
cerpen, puisi, esai, atau opini.
Dalam
penerapannya, papan pengumuman dipasang setidaknya empat buah. Dua papan
pengumuman untuk kalangan remaja dan dewasa, dua papan pengumuman berikutnya
untuk anak-anak. Dengan kata lain, ukuran papan pengumuman–terutama tinggi–juga
harus disesuaikan dengan kebutuhan para pembacanya.
Perihal
bahan bacaan dapat dimusyawarahkan secara intensif, baik melalui rapat RT/RW,
rapat PKK, maupun rapat karang taruna. Misalnya, papan pengumuman pertama untuk
rubrik koran, baik koran nasional maupun koran lokal. Lalu, papan pengumuman
kedua untuk rubrik bebas, seperti puisi, cerpen, esai, atau opini masyarakat
sekitar seputar isu nasional atau lokal. Kemudian, papan pengumuman ketiga dan
keempat untuk rubrik bebas anak-anak, baik TK, SD, maupun SMP. Jadi,
penerapannya seperti mading sekolah. Atas dasar itulah, dapat saya simpulkan
bahwa budaya literasi semacam ini disebut sebagai “mading masyarakat”.
Alangkah
baiknya bila papan pengumuman tersebut dilapisi dengan kaca pelindung. Lalu,
papan pengumuman tersebut dipasangi atap dari asbes atau seng. Jadi, modelnya
seperti papan-papan koran kebanyakan di pusat kota. Hal ini bertujuan untuk
melindungi bahan bacaan tersebut dari berbagai gangguan kerusakan, seperti air hujan,
panas matahari, angin kencang berdebu, atau ulah vandalistis orang-orang yang
tidak bertanggung jawab. Kemudian, disediakan sejumlah kursi atau dingklik
untuk orang tua yang kiranya tidak kuat berlama-lama membaca sambil berdiri. Selanjutnya, dipasang pula sejumlah lampu neon supaya dapat dibaca pada
malam hari. Dengan begitu, para pembaca yang berada di sana merasa
lebih nyaman dan betah.
Demi
kebaruan informasi, bahan-bahan bacaan tersebut harus diganti secara berkala.
Untuk bacaan koran, sebaiknya diganti setiap hari minimal saat subuh. Dalam hal
ini, kita dapat melibatkan peran sejumlah pihak. Misalnya, petugas Linmas,
ketua RT/RW, ketua atau anggota karang taruna, atau para petugas siskamling
yang mendapat tugas ronda saat itu. Bahkan, peran ibu-ibu sebagai anggota
masyarakat juga tidak kalah penting dalam menyemarakkan budaya literasi tersebut.
Untuk bacaan
lainnya, seperti puisi, cerpen, esai, atau opini dapat diganti minimal seminggu
sekali. Alangkah baiknya bila rubrik-rubrik tersebut disajikan secara menarik,
baik tulisan tangan pada kertas berwarna, tempelan dekorasi, maupun tulisan cetak
komputer. Dengan begitu, papan pengumuman yang selama ini terkesan “formal”
beralihfungsi menjadi sebuah wadah kreativitas yang luwes dan menyenangkan.
Untuk
mewujudkan dan melestarikan mading masyarakat yang baik, tentu harus bersumber
dari bahan bacaan yang baik pula. Oleh karena itu, diperlukan sejumlah cara dan
peran untuk menghasilkan karya yang menarik serta berkesinambungan, yaitu:
1.
Memberi pengarahan kepada si anak atau
si adik saat berkarya
Pengarahan
keluarga, baik oleh orang tua maupun kakak sangat berpengaruh bagi si anak atau
si adik. Orang tua memberi pengarahan bahwa karya si anak akan dibaca oleh
orang banyak. Oleh karena itu, si anak diberi pengertian bahwa dalam berkarya
itu tidak sekadar “asal jadi”. Karya yang baik adalah karya yang berlandaskan
rasa penuh tanggung jawab. Dengan begitu, si anak terdidik untuk selalu menghasilkan
karya yang benar-benar berkualitas dan bermanfaat.
Jika si anak
mengalami kesulitan dan berkeluh kesah, maka orang tua harus menjadi pendengar
yang baik. Orang tua harus berusaha semaksimal mungkin membantu si anak dalam
memecahkan permasalahan tersebut. Dengan kata lain, orang tua harus
memfasilitasi kebutuhan si anak saat berkarya. Bagaimanapun, perhatian atau
kasih sayang orang tua adalah kunci kesuksesan bagi si anak.
Selain itu,
peran si kakak selaku anggota keluarga juga tidak kalah penting. Si kakak dapat
memberi pengarahan dalam arti tidak bermaksud menggurui si adik. Dengan kata
lain, si kakak memberi masukan, seperti pujian, kritik, saran, atau diskusi
yang membangun. Jangan sampai si kakak mengabaikan atau menghina karya si adik
yang justru dapat melemahkan mentalnya. Oleh karena itu, si kakak harus
mendukung kreativitas si adik supaya ia selalu termotivasi untuk menghasilkan
karya yang benar-benar kreatif dan bermanfaat.
Jika si adik
mengalami kesulitan dan berkeluh kesah, maka si kakak juga harus menjadi
pendengar yang baik. Si kakak harus sesabar mungkin menghadapi kelakuan si adik
yang boleh jadi masih dalam masa yang labil. Alangkah baiknya bila si kakak
turut bekerja sama atau membantu si adik dalam menghasilkan karya tersebut. Bagaimanapun,
kerja sama adalah kunci kesuksesan bagi si adik.
2.
Mendampingi si anak atau si adik saat
mengumpulkan karya
Pendampingan
keluarga, baik oleh orang tua maupun kakak sangat berpengaruh bagi si anak atau
si adik. Orang tua dapat mengantarkan anaknya ke papan pengumuman. Lalu, orang
tua mengajak si anak untuk membaca sejumlah informasi pada papan pengumuman
tersebut. Setelah membaca, orang tua bersama si anak mendiskusikan sejumlah
informasi pada papan pengumuman tersebut. Dengan begitu, si anak merasa dibimbing
oleh orang tuanya untuk selalu bersemangat dan berpikir kritis dalam menghadapi
setiap persoalan.
Selain itu,
peran si kakak selaku anggota keluarga juga tidak kalah penting. Sama halnya
dengan orang tua, si kakak dapat mengantarkan, mengajak, dan berdiskusi dengan
si adik terkait bahan bacaan di papan pengumuman tersebut. Dalam berdiskusi, si
kakak sebaiknya juga terbuka dalam menerima keluh kesah atau masukan dari si
adik. Jangan sampai si kakak terkesan paling benar sendiri dan tidak mau
mengalah yang justru dapat melemahkan mental si adik. Dengan begitu, si adik
merasa diperhatikan oleh si kakak sehingga ia termotivasi untuk selalu
menghasilkan karya yang lebih baik.
3.
Menjadi teladan bagi si anak atau si
adik saat berkarya
Keteladanan
keluarga, baik oleh orang tua maupun kakak sangat berpengaruh bagi si anak atau
si adik. Orang tua turut berperan dalam menyumbangkan bahan bacaan yang
bermutu. Orang tua dapat menyajikan sejumlah kliping puisi atau cerpen dari
berbagai koran atau majalah. Orang tua dapat membuat sendiri puisi atau cerpen
sesuai dengan kreativitasnya masing-masing. Dengan begitu, si anak memperoleh
gambaran hasil karya orang tuanya. Dengan adanya gambaran tersebut, si anak memperoleh
inspirasi dan mampu menimbang-nimbang kelebihan dan kekurangan yang harus
diatasi.
Jika si anak
mengalami kesulitan dan berkeluh kesah, maka orang tua harus menjadi pembimbing
yang baik. Sebaiknya orang tua tidak memaksakan si anak untuk membaca atau
membuat karya sesuai dengan keinginannya masing-masing. Bila orang tua terlalu
memaksakan si anak, dapat dikhawatirkan si anak malah menjadi merasa terpaksa
dan tidak bersemangat. Akibatnya, si anak menjadi malas dan hanya akan
melakukannya bila diperintah saja.
Selain itu,
peran si kakak selaku anggota keluarga juga tidak kalah penting. Sama halnya
denga oang tua, si kakak dapat membuat kliping cerpen dan puisi dari berbagai
koran atau majalah. Si kakak dapat membuat sendiri puisi atau cerpen sesuai
dengan kreativitasnya masing-masing. Si kakak dapat menunjukkan hasil karya
puisi atau cerpen yang dibuat atau dipelajarinya di sekolah. Dengan begitu, si adik
memperoleh gambaran hasil belajar atau hasil karya kakaknya selama bersekolah.
Si adik juga memperoleh inspirasi untuk berkarya kreatif dan bernilai tinggi seperti
kakaknya.
Jika si adik
mengalami kesulitan dan berkeluh kesah, maka si kakak harus menjadi sahabat
yang baik. Sebaiknya si kakak juga tidak memaksakan si adik untuk membaca atau
membuat karya sesuai dengan keinginannya. Kemudian, si kakak harus membantu
semaksimal mungkin. Misalnya, mengajari si adik terkait ciri-ciri puisi atau
cerpen yang baik. Jangan sampai si kakak mengejek atau merendahkan karya si
adik yang justru dapat membuatnya patah semangat. Bagaimanapun, menjadi teladan
tidak harus selalu menghasilkan karya yang baik. Memberi masukan yang membangun
juga merupakan salah satu
sikap keteladanan.
Demikian sejumlah hal yang perlu dipahami mengenai budaya literasi melalui
papan pengumuman. Saya sangat berharap, jika semua masyarakat Indonesia
melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, maka budaya literasi di sekitar kita
dapat hidup dan berkembang luas. Bukan hanya demi mengurangi intensitas penggunaan
gadget atau televisi, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia
anak-anak selaku siswa-siswi sekolah. Jika kualitas sumber daya manusianya
terpenuhi, maka bukan tidak mungkin siswa-siswi tersebut dapat dengan mudah
meraih prestasi, termasuk memperoleh hasil Ujian Nasional (UN) yang memuaskan.
Supaya budaya literasi ini berjangka panjang, saya menyarankan supaya ada
semacam koordinasi antara perkumpulan bapak-bapak RT, remaja karang taruna, dan
ibu-ibu PKK. Setidaknya, disisihkan sebagian uang kasnya untuk pendanaan budaya
literasi melalui papan pengumuman tersebut. Pendanaan dapat berupa renovasi dan
perawatan papan pengumuman, penyediaan bahan bacaan, serta pemberian semacam
penghargaan bagi keluarga yang menyajikan karya kreatif dan bertanggung jawab.
Setiap manusia mempunyai kodrat untuk menghargai dan dihargai. Oleh karena itu,
penghargaan berperan penting dalam menjaga budaya literasi semacam ini. Melalui
tulisan ini, ayo, kita semarakkan budaya literasi mulai dari lingkungan sekitar
kita!
#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga
#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga
Referensi:
http://puspendik.kemdikbud.go.id/hasil-un/ (Diakses pada hari Senin, 30 September 2019 Pukul
20.00 WIB)
https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1234 (Diakses
pada hari Senin, 30 September 2019 Pukul 20.00 WIB)


Komentar
Posting Komentar