Perpustakaan Stasiun dan Masa Depan Kereta Api Indonesia
Di
zaman yang serba canggih ini, kebutuhan masyarakat akan jasa transportasi
(kereta api) terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Kereta api
tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi yang mengangkut barang-barang
saja, tetapi juga para penumpangnya yang bernama manusia.
Seiring
dengan kemajuan teknologi dan meningkatnya permintaan, kereta api berinovasi ke
arah yang lebih baik dalam melayani pelanggan secara prima. Inovasi itu dapat berupa
perluasan lahan stasiun, penambahan dan perawatan berbagai fasilitas stasiun,
sistem pembelian tiket kereta api secara online,
peremajaan gedung stasiun, lokomotif serta gerbong kereta api, dan lain-lain.
Kalau
kita sedang menunggu keberangkatan kereta api yang masih berlangsung dalam
hitungan puluhan menit, bahkan hitungan jam kita akan menjumpai berbagai kegiatan
yang dilakukan oleh para penumpang di ruang tunggu. Ada yang sibuk
bercakap-cakap. Ada yang sibuk memakan camilan. Ada yang sibuk membaca koran.
Ada pula yang sibuk bermain gawai, dan lain-lain. Namun, dari semuanya itu
bermain gawailah yang paling dominan dilakukan oleh para penumpang.
Belajar
dari pengalaman pribadi, saya pernah menunggu keberangkatan kereta api yang
masih berlangsung tiga jam lagi. Kebetulan waktu itu saya berposisi di luar
kota dan hendak menghubungi beberapa kerabat saya yang ada di kampung halaman.
Namun, baterai gawai saya rupanya hampir habis. Padahal, colokan untuk mengisi
ulang daya baterai yang tersedia di stasiun sudah terpakai penuh. Uang saku
saya sangat mepet sehingga tidak memungkinkan untuk membeli makanan ringan.
Beruntung saya masih membawa bekal minuman sehingga saya masih bisa bertahan di
dalam stasiun tersebut. Namun, dalam “penantian” yang panjang itu muncul
sejumlah tanda tanya, “Apa yang harus saya lakukan?”
Pernah
saya mencoba mengisi “waktu luang” tersebut dengan mengajak bercakap-cakap bersama
para penumpang lain di ruang tunggu. Namun, hampir dari semuanya asyik dengan
gawainya masing-masing. Mungkin karena itulah, seringkali mereka tidak fokus
dengan arah pembicaraan saya, minta diulangi. Bahkan, ada yang meminta saya
untuk “menahan diri” karena ia sedang seru-serunya dengan gawai pintarnya,
seolah-olah gawainya lebih pintar daripada saya. Akhirnya saya malah menjadi sungkan
kepada mereka dan memutuskan untuk berjalan-jalan mengitari stasiun daripada
saya dianggap pengganggu bagi mereka.
Sepanjang
saya mengitari stasiun tersebut, saya tidak menjumpai tempat atau hal menarik
selain menyaksikan lalu-lintas kereta api dan kendaraan bermotor yang selalu
meramaikan stasiun tersebut. Pernah saya sambil lalu menonton televisi umum di
stasiun tersebut, tetapi kebetulan program siarannya tidak sesuai dengan selera
saya. Selain itu, volume suaranya juga kurang kencang. Kalau boleh beribarat,
saya seperti seorang tahanan, tidak bisa membebaskan diri dari kesuntukkan di
dalam stasiun. Ini lebih tepat disebut sebagai “tahanan stasiun”.
Dari
kejadian-kejadian tersebut, muncul pertanyaan besar dalam benak saya, “Solusi
seperti apakah yang efektif untuk para penumpang khususnya saya pribadi agar
mampu mengisi waktu luangnya di dalam stasiun dengan kegiatan positif?”
Perpustakaan Stasiun: Fungsi Inovasi
dan Pelayanan Prima
Membaca
merupakan salah satu kegiatan yang paling tepat untuk mengisi waktu luang di
dalam stasiun. Sayangnya sejauh pengalaman pribadi, saya hanya menjumpai
bacaan-bacaan yang bersifat “sepintas” di dalam stasiun tersebut, seperti
jadwal-jadwal keberangkatan kereta api atau brosur-brosur promosi terkait layanan
kereta api. Untung-untung masih ada koran bekas, tetapi saya sama sekali tidak
berhasil menemukannya. Dalam kejenuhan itu saya berkelakar, “Seandainya saja
ada perpustakaan di stasiun ini!”
Berbicara
tentang membaca, akhir-akhir ini Indonesia sedang diramaikan oleh isu minat
baca yang rendah. Pada umumnya, isu tersebut selalu diperkuat
oleh dua alasan yang menjadi kata kunci, yaitu “UNESCO” dan “Central
Connecticut State University”. Adapun data survei UNESCO menunjukkan bahwa
minat baca orang Indonesia hanya 0,001 persen. Bahkan, studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central
Connecticut State University menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia hanya menduduki
peringkat 60 dari 61 negara.
Apakah
karena masyarakat Indonesia tidak bisa membaca? Tidak! Berdasarkan data Badan
Pusat Statistik (BPS), setiap tahunnya angka melek huruf masyarakat Indonesia
selalu menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan sejak tahun 2011. Bahkan,
sebagaimana dilansir dari Detik.com, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dalam peringatan Hari Aksara Internasional 2017 di Kuningan, Jawa Barat, pada 8 September lalu, penurunan tingkat buta huruf di Indonesia
sudah sangat drastis hingga tinggal 2,07 persen atau 3,4 juta orang. Jadi,
permasalahannya bukan karena masyarakat Indonesia tidak bisa membaca, tetapi
karena kekurangan akses untuk membaca.
Bagaimana
bisa? Cobalah kita menyaksikan keberadaan toko-toko buku yang hanya berada di
pusat-pusat kota. Lalu, perpustakaan-perpustakaan yang hanya berada di
sekolah-sekolah, kampus-kampus, dan kantor-kantor pusat lembaga negara atau
instansi-instansi terkait lainnya. Perpustakaan seolah-olah dikhususkan bagi golongan
mereka sendiri, hingga tidak jarang bermunculan tulisan, “Selain karyawan
dilarang masuk!”
“Pembatasan”
semacam inilah yang membuat masyarakat Indonesia kekurangan akses untuk membaca
buku. Terlebih lagi harga-harga buku sekarang yang kian melambung sehingga menyebabkan
kebanyakan mereka berpikir panjang hanya untuk membeli sebuah buku. Jika daya
beli masyarakat terhadap buku makin menurun, bukan tidak mungkin jumlah koleksi
buku bacaan dan wawasannya pun juga makin sedikit. Alhasil mereka mencari
substitusi dari buku-buku tersebut dengan sebuah perangkat yang akrab disebut
gawai.
Meskipun
demikian, kita juga jangan serta-merta menjadikan gawai sebagai kambing hitam.
Gawai memang “benda ajaib” yang sangat praktis. Keberadaannya tidak hanya
berfungsi sebagai alat komunikasi saja, tetapi juga sebagai alat hiburan dan
alat belajar. Betapa banyak aplikasi game yang bisa diunduh dan dimainkan.
Betapa banyak situs berita online
yang bisa diakses dan dibaca. Semua hal tersebut cukup ditebus dengan kuota
internet yang terjangkau harganya. Apalagi kalau di sekitarnya terdapat akses
wifi gratis. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila pesona gawai selalu
berhasil mengalahkan pesona buku.
Bercermin
pada Stasiun Kereta Api Wacol Queensland di Brisbane, Australia misalnya. Sebagaimana dilansir dari ABC Australia dalam Detik.com, dengan
mendirikan perpustakaan mini, stasiun tersebut menjadi stasiun pertama yang mempunyai
perpustakaan di Queensland. Selain itu, rupanya perpustakaan stasiun ini dapat
menjadi salah satu solusi mengurangi ketergantungan gawai pada masyarakat
Australia, khususnya para penumpang. Terlebih lagi, perpustakaan stasiun ini
dapat digunakan sebagai tempat pengisi waktu luang para penumpang sembari
menunggu kereta api datang.
Oleh
karena itu, PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) selaku perusahaan jasa pelayanan
publik dapat menciptakan inovasi dengan mendirikan perpustakaan mini di setiap
stasiun utama yang tersebar di seluruh Indonesia. Perpustakaan stasiun dapat dimulai
dengan koleksi buku-buku bacaan bernuansa perkeretaapian. Selain itu, dekorasi
ruangannya dapat didesain dan ditata sedemikian rupa sehingga menarik minat
para pengunjungnya untuk terus datang dan nyaman berada di dalamnya. Dengan
demikian, PT. KAI tidak hanya berkontribusi dalam memberikan inovasi dan pelayanan
pelanggan yang prima saja, tetapi juga turut serta dalam upaya mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Kita
tidak dapat memungkiri bahwa di zaman yang serba digital ini, orang-orang
menjadi “candu gawai”. Oleh karena itu, peran kita bukanlah memaksa mereka
untuk meninggalkan gawainya, tetapi membimbing mereka untuk dapat menyeimbangkan
pemakaian gawainya. Kalau boleh saya berpepatah, “Selama akal masih dikandung
kepala, manusia akan terus mencari tahu!”
Saya
yakin, jika akses-akses membaca buku terus diperluas, orang-orang akan dengan sukarela
mengantongi gawainya. Karena buku merupakan “benda serius”, maka mereka akan
tergerak hatinya untuk terus belajar kritis. Jika masyarakat Indonesia terus belajar
kritis, mereka akan berwawasan luas sehingga tidak akan terus mengulangi
kesalahan yang sama dalam kehidupannya.
Saya
bisa membayangkan masa depan kereta api Indonesia dengan adanya perpustakaan stasiun
ini. Kelak bila ada orang lain bertanya, “Apakah stasiun itu?” Maka, orientasi jawabannya
tidak sekadar, “tempat perhentian kereta api” ataupun, “tempat menunggu bagi
calon penumpang kereta api” tetapi juga “perpustakaan”, bahkan “museum” dari
kereta api itu sendiri. Stasiun tidak hanya dipenuhi oleh para penumpang,
tetapi juga para kutu buku, bahkan para pemerhati kereta api lainnya.
Kita
tidak perlu sekolah setinggi-tingginya hingga menjadi seorang insinyur hanya
untuk mengetahui seluk-beluk ilmu perkeretaapian. Cukuplah perpustakaan stasiun
yang menjadi tempat kursusnya. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan bila kelak Republik
Indonesia akan dijuluki negara-negara lain sebagai “generasi insinyur” ataupun
“negeri railfan”.
Komentar
Posting Komentar