SELAMAT DUNIA-AKHIRAT DENGAN BERSELAWAT



Judul       :       Keajaiban Shalawat
Penulis    :       Isnaeni Fuad
Penerbit  :       Lintas Media Jombang
Tahun     :       -
Tebal       :       240 halaman
Ukuran   :       -
ISBN       :       979-26-3805-9
Buku ini merupakan kumpulan buah pemikiran penulis tentang bacaan selawat dan manfaatnya, serta keistimewaan-keistimewaan yang ada di dalamnya. Selain itu, buku ini juga berisikan kisah-kisah menarik yang berkaitan dengan bacaan selawat. Selawat merupakan bacaan pujian, sanjungan dan doa yang ditujukan kepada Rasulullah Saw. sebagai bukti dari rasa hormat dan cinta kepadanya. Beliaulah orang yang berhasil menyelamatkan umat manusia dari kerendahan budi dan dari akidah yang sesat hingga menjadi manusia berakhlak tinggi dan menauhidkan Allah Swt. (halaman i).
Pada bab pertama buku ini dikemukakan berbagai macam faedah selawat. Di antara faedah tersebut yaitu selawat dapat mendatangkan syafaat Nabi Muhammad Saw.. Keterangan ini sejalan dengan kutipan dalam Kitab “Al-Jami’us Ash-Shaghir” karya Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As-Suyuthiy halaman 49. Setiap muslim pasti menyadari bahwa ia tidak akan bisa mengandalkan amaliahnya semata dalam menghadapi dahsyatnya hari kiamat, pertanyaan kubur, dan peristiwa-peristiwa hebat yang terjadi di alam akhirat tanpa ada pertolongan atau syafaat dari Nabi Muhammad Saw. (halaman 11–13).
Dengan selawat, orang-orang yang membacanya juga akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah Swt.. Dalam keterangan hadis yang lain, diterangkan bahwa setiap selawat yang dibaca oleh seorang hamba, maka si hamba tersebut dimohonkan ampunan oleh ribuan malaikat. Keterangan ini sejalan dengan kutipan dalam Kitab “Durratun Nasihin” karya Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khubariy halaman 165. Dengan dihapusnya dosa-dosa orang yang membaca selawat, maka dengan sendirinya ia akan masuk surga dengan mudah karena seluruh dosanya sudah diampuni oleh Allah Swt. berkat bacaan selawatnya kepada Nabi Muhammad Saw. (halaman 15–18).
Seringkali beberapa umat Muslim masih mempersoalkan pembacaan selawat, baik dalam pengajian maupun dalam majelis. Pembacaan selawat dalam forum semacam itu dianggap sebagai bidah karena tidak berpedoman pada Alquran dan hadis. Segala bentuk peribadatan yang tidak berpedoman kepada keduanya ataupun salah satu dari keduanya dapat dikatakan sesat. Jika paham bidah tentang pembacaan selawat semacam ini tidak segera diluruskan, maka dapat berakibat terjadinya ketegangan bahkan perpecahan sesama Muslim.
Padahal, sejatinya membaca selawat dalam majelis itu sudah ada dalilnya. Keterangan ini sejalan dengan kutipan hadis nabi yang dikutip dalam Kitab “Durratun Nasihin” karya Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khubariy halaman 36, “Abu Sair meriwayatkan, Rasulullah Saw. bersabda: Tidak ada suatu kaum yang terhimpun dalam suatu majelis yang tidak membaca selawat pada Nabi Muhammad Saw., kecuali kecelakaan akan menimpa mereka, seandainya mereka masuk surga pasti tidak tahu pahalanya.” Berdasarkan hadis tersebut, dapat disimpulkan bahwa bila di dalam majelis itu dibacakan selawat, setidak-tidaknya orang yang berkumpul di majelis tersebut akan dijauhkan dari malapetaka, baik petaka yang diakibatkan dari perselisihan pendapat, atau ketersinggungan dari ucapan saat berkumpul (halaman 44).
Seringkali beberapa Muslim masih kurang khusyuk, bahkan cenderung menyepelekan dalam membaca selawat dalam salat, baik ketika tasyahud awal maupun tasyahud akhir. Padahal, orang yang melakukan salat tanpa membaca selawat pada Nabi Muhammad Saw., maka salatnya tidak sah. Keterangan ini sejalan dengan kutipan dalam Kitab “Durratun Nasihin” karya Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khubariy halaman 92. Hal ini menunjukkan bahwa dalam beribadah tanpa disertai selawat, maka ada sesuatu yang ganjil dan kurang sempurna, hingga bisa menyebabkan amal ibadah tersebut tidak sampai kepada Allah Swt. (halaman 74–76).
Adapun bab berikutnya membahas hukum-hukum membaca selawat. Ada beberapa tempat dan waktu yang dianjurkan, bahkan diwajibkan untuk membaca selawat. Di antara tempat dan waktu tersebut adalah: hari Jumat, ketika mendengar nama Nabi Muhammad Saw. disebut, ketika masuk masjid, waktu selesai azan dan ikamah, dan ketika berdoa. Adapun letak bacaan selawat yang wajib dibaca adalah: di dalam tasyahud dan di dalam salat jenazah (halaman 188–197).
Selain itu, bab berikutnya membahas kecaman terhadap orang yang anti terhadap selawat. Alquran pun menganjurkan kepada kaum Muslimin agar senatiasa membaca selawat kepada nabinya. Keterangan ini sejalan dengan kutipan dalam Alquran Surat Al-Ahzab: 56. Terlebih lagi, Rasulullah Saw. menyebut orang yang berada dalam suatu majelis lalu mereka berpisah tanpa membaca selawat, maka perpisahan mereka itu aromanya bagaikan bangkai busuk. Keterangan ini sejalan dengan kutipan hadis riwayat Abu Daud. At-Tirmidzi mengatakan, “Ini adalah hadis hasan” (halaman 198, 202).
Pada bab akhir, buku ini membahas sifat dan kepribadian Rasulullah Saw., meliputi: keistimewaan Rasulullah, kesucian Rasulullah, kesucian keturunan Rasulullah, kecerdasan Rasulullah, nama lain Rasulullah, dan lain-lain (halaman 203–238). Dengan memahami berbagai macam keajaiban selawat kepada Nabi Muhammad Saw., umat Muslim diharapkan termotivasi menjadi manusia yang makin beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.. Jika manusia selalu berjalan sesuai dengan koridor Alquran dan hadis, bukan tidak mungkin kehidupannya akan selalu dijamin dan derajatnya akan dimuliakan oleh Allah Swt. sehingga ia termasuk golongan orang yang selamat, baik di dunia maupun di akhirat.


Komentar

Postingan Populer