Dalam Ruang Gerhana: Kumpulan Cerpen (Cuplikan 6)
Dalam Ruang Perawatan
Namaku Kusnandar. Aku tidak ingat kapan terakhir kali
aku mengucapkan pernyataan sumpah itu. Sungguh, aku tidak tahu pasti. Tetapi,
yang jelas itu terasa sudah berlangsung lama sekali. Dan pada akhirnya di hari
yang penuh dengan malapetaka tak terduga, terpaksa kulanggar malu-malu sumpah
setia itu.
Aku hanyalah salah seorang yang sangat membenci
lika-liku birokrasi. Maka, kau boleh sebut aku ini pemalas. Aku hanyalah salah
seorang yang sangat membenci ketergantungan spesialis. Maka, kau boleh sebut
aku ini penyombong. Aku hanyalah salah seorang yang sangat membenci
pembengkakan administrasi. Maka, kau boleh sebut aku ini seorang yang kedekut.
Apa yang salah dengan birokrasi? Kalau kamu hanya
berharap sebuah tanda tangan atau tanda cap demi sebuah validitas berkasmu dan
baru kelar pada puluhan menit, bahkan berjam-jam kemudian, bagaimana
perasaanmu? Serumit itukah pola dari sebuah administrasi hingga berwujud pada
sebuah kertas yang bernama kuitansi? Sebesar itukah rasa curiganya padaku
sekalipun sudah kutunjukkan KTP asli yang sudah mulai luntur itu?
Lalu, apa yang salah dengan spesialis? Kalau kamu
selalu berharap sesuatu kepada seorang spesialis, bahkan menyerahkan seluruh
jiwa dan ragamu padanya hingga kamu melupakan campur tangan Tuhan Yang
Mahakuasa, bagaimana perasaanmu? Sesulit itukah kamu memohon segala sesuatu
kepada Tuhanmu? Setinggi itukah rasa percayamu pada seorang spesialis karena
gelar, jabatan, dan jam terbangnya yang padat itu?
Kemudian, apa yang salah dengan administrasi? Kalau
kamu selalu mendengar istilah, “Tak ada yang gratis di dunia ini,” maka dapat
kusimpulkan di sinilah asal-usul istilah itu. Mulai dari tempat parkir hingga
kembali lagi ke tempat parkir, berapa banyak biaya yang harus kamu keluarkan?
Kalau satu persatu pelayanan publik dimintai besaran tagihannya, bagaimana
perasaanmu? Sesukar itukah mengumpulkan dana operasionalmu sampai-sampai harus
berbuat seperti itu? Sesedikit itukah gaji pekerjaanmu sampai-sampai harus tega
mendahulukan biaya administrasi dulu sebelum melayani setiap orang yang sakit,
bahkan sakratulmaut di saat-saat kritisnya?
Maka, dengan penuh ketegasan kuikrarkan sumpah setia
itu. Amit-amit jabang bayi. Jangan pernah aku masuk rumah sakit sebagai seorang
pasien. Cukuplah aku masuk ke dalamnya sebagi seorang penjenguk, pembesuk,
penghibur atau semacamnya. Aku sudah cukup lelah bersabar menunggu setiap
antrean. Aku sudah cukup ikhlas berkorban menyerahkan seluruh perincian biaya
tagihan pelayanan. Bahkan, aku sudah cukup kenyang berkesimpulan menyaksikan
pemandangan para petugas yang kurang menyenangkan.
Penasaran dengan
kelanjutan ceritanya?
Dapatkan segera bukunya di sini:
https://www.guepedia.com/Store/lihat_buku/NDI5MQ==
https://www.tokopedia.com/guepedia/dalam-ruang-gerhana
Terima kasih!
Salam Membaca!
Selamat Menginpirasi!

Komentar
Posting Komentar