KOK TAHU GOOGLE SUDAH TUA?
Istilah "Mbah
Google" memang bukanlah istilah baru. Saya sendiri pertama kali
mendengarnya mulai tahun 2007. Ketika itu, saya baru-barunya merasakan duduk di
bangku SMA. Kejadiannya bermula ketika
saya sedang mengerjakan tugas biologi, yaitu mencari nama-nama ilmiah pada
flora dan fauna yang terdapat di Indonesia. Sayangnya, tidak semua informasi
tersebut ada di buku biologi yang saya miliki. Alhasil, saya bertanya kepada
teman sebangku saya. Barangkali ia tahu banyak tentang informasi-informasi
tersebut.
Ketika
saya menanyakan hal itu kepadanya, ia dengan tawa-candanya menjawab, “Tanya
saja sama “Mbah Google”. Semuanya lengkap ada di sana!”
Saya
mengangguk-angguk mendengar jawabannya tanpa pikir panjang. Sepulang sekolah,
saya bergegas menuju ke warnet dekat sekolah. Setelah masuk dan memilih tempat
duduk yang diinginkan, saya langsung melakukan penjelajahan informasi-informasi tersebut melalui Google. Benar
saja, dalam sekejap sederet informasi lengkap dengan deskripsi flora-faunanya
tersaji menarik di monitor komputer itu. Waktu itu, saya masih belum punya flash disk. Jadi, saya mencatat semua
informasi tersebut di buku tugas.
Setelah
mencatat semua informasi yang dibutuhkan, saya menghembuskan napas panjang
pertanda lega. Tiba-tiba saya teringat perkataan teman saya tentang penyebutan
“Mbah Google” itu. Penasaran, saya mencari informasi terkait asal-usul
penyebutan “Mbah Google” itu. Satu jam telah berlalu, tetapi saya belum juga
menemukan “titik terang” dari hal tersebut. Singkatnya, karena saya mulai
jenuh, maka saya memutuskan untuk menghentikan pencarian saya itu dan bergegas
keluar dari warnet.
Keesokan
harinya, karena masih penasaran, saya bertanya kepadanya lagi, “Eh, kemarin
kamu menyebut situsnya “Mbah Google” ya! Kok bisa?”
Teman
saya langsung terbengong-bengong mendengar pertanyaan itu. Lalu, dengan
tawa-candanya lagi ia menjawab, “Oh, enggak tahu aku! Aku cuma ikut-ikutan
orang lain kok!”
“Orang
lain? Siapa?” tanyaku lagi.
“Ya…itu,
orang-orang di sekitar rumahku biasa menyebutnya begitu!” jawabnya.
Lagi-lagi
pencarian saya terkait hal ini menemui jalan buntu. Kalau yang “sumbernya”
informasi saja cuma beralasan “ikut-ikutan”, terus ke mana lagi saya harus
mencari jawabannya? Seiring berjalannya waktu, satu persatu orang yang “gencar”
menyebutkan ini kutemui untuk kutanyai asal-usul penyebutan julukan itu, tetapi
mereka semua selalu memberikan jawaban yang sama. Akhirnya saya menyerah dan
seiring berjalannya waktu, saya telah melupakannya.
Sepuluh Tahun Telah Berlalu
Sampai
detik ini, istilah itu masih saja ramai didengungkan. Bahkan, sudah menjadi
semacam “brand’ bagi perusahaan itu sendiri. Hingga sampailah pada suatu ketika
saya sedang membaca sebuah buku (lampiran di bagian terbawah) yang kata kuncinya “Tanya Mbah Google”. Lagi-lagi,
istilah ini kembali mengingatkan kejadian yang pernah memusingkan saya 10 tahun silam.
Demi
memulihkan kesehatan akal dan jiwa ini, saya melakukan penelusuran kembali asal-usul
penyebutan “Mbah Google” yang tetap viral sampai sekarang. Yah, walaupun artikel-artikel
di internet itu tidak pernah menjelaskannya secara detail atau gamblang, tetapi paling
tidak saya dapat mengambil sebuah hipotesis dari hasil penelusuran tersebut.
Menurut
Wikipedia (2017), Google adalah sebuah perusahaan multinasional Amerika Serikat yang
berkekhususan pada jasa dan produk Internet. Produk-produk tersebut meliputi
teknologi pencarian, komputasi web, perangkat
lunak, dan periklanan daring.
Sebagian besar labanya berasal dari AdWords. Google didirikan oleh Larry Page
dan Sergey Brin
saat masih mahasiswa Ph.D. di Universitas Stanford. Mereka berdua
memegang 16 persen saham perusahaan. Mereka menjadikan Google sebagai
perusahaan swasta pada tanggal 4 September 1998. Pernyataan
misinya adalah "mengumpulkan informasi dunia dan membuatnya
dapat diakses dan bermanfaat oleh semua orang", dan slogan tidak resminya
adalah "Don't be evil". Pada tahun 2006, kantor
pusat Google pindah ke Mountain View, California.
Dari
pemaparan di atas, dapat dikemukakan bahwa Google adalah mesin pencari; ia
lebih dari sekadar kamus atau ensiklopedia, ia adalah jendela dunia. Hal ini
yang menjadikan daya “intelektual” Google di atas segalanya, katakanlah Google
adalah mesin “ajaib-jenius”. Cukup dengan menulis sebuah istilah yang
diinginkan melalui kolom “search” lalu tekan “enter”, maka hanya dalam beberapa
detik Google akan memunculkan “rahasia” dari istilah tersebut lengkap dengan terminologi
dan gambar-gambarnya.
Adapun
istilah “Mbah” sendiri adalah sebutan orang Jawa untuk menyebut kakek atau
nenek. Boleh juga istilah “Mbah” sendiri sebagai gelar kehormatan bagi orang
yang dituakan (berpangkat tinggi, bermartabat tinggi, dan sebagainya). Jadi,
dari pemaparan-pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa penyebutan “Mbah
Google” untuk menghormati Google selaku mesin pencarian berpredikat “ajaib-jenius”
karena dapat mengetahui segala hal di dunia ini dalam waktu yang singkat. Mungkin
hal ini yang menjadikannya “keramat” seolah-olah keberadaannya seperti seorang “dukun”
yang mampu meramalkan sesuatu pengetahuan, kejadian, atau peristiwa secara cermat dan tepat, bahkan "masa depan". Dukun selalu identik
dengan “Mbah” yang sudah banyak “makan garam”, kenyang pengalaman dalam
menghadapi dan mengatasi segala permasalahan hidup.
Ya,
boleh-boleh saja kalau asal-usul penyebutannya seperti itu sehingga
orang-orang bersepakat menyebutnya “Mbah Google”. Namun, kalau saya sendiri
berkeberatan menyebutnya “Mbah Google”. Lah wong ia kelahiran tahun 1998 kok
sudah dipanggil “Mbah”. Sebutan “Mbah” atau lanjut usia sendiri secara formal kan harus berusia
60 tahun lebih (menurut Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia). Kalau dihitung dari sekarang (2017), masih terlalu cepat 49
tahun untuk menyebutnya “Mbah”. Seharusnya generasi 2058 ke atas kelak yang wajib menyebutnya "Mbah Google". Jadi, kesimpulannya kalau saya sendiri lebih “ikhlas”
menyebutnya “Dik Google”.
Kalau
memang alasannya seperti itu, harusnya secara universal kita menyebut istilah “Mbah”
kepada setiap teknologi yang ada pada masa kini (entah itu "Mbah Microsoft", "Mbah Sony", "Mbah Sanyo", "Mbah Mercedes", dan sebagainya), karena tidak ada sekarang teknologi yang
tidak canggih atau berpredikat “ajaib-jenius”. Ya, memang tidak dapat
dimungkiri kalau Google adalah pelopornya, maka bukan tidak mungkin sebutan “Mbah
Google” akan terus eksis selamanya.
Pesan
moralnya, ini hanya tadabur seorang anak manusia. Kebenaran yang datangnya dari
makhluk hidup itu hanya bersifat nisbi. Hanya Tuhan sejatinya pemilik kebenaran
yang mutlak itu. Oleh karena itu, kalau Anda tidak setuju sama saya terkait hal
ini, saya tidak rugi apa-apa. Namun, kalau Anda setuju sama saya terkait hal
ini, saya juga tidak untung apa-apa. Saya sedikit mengutip kata para ustaz yang
bersumber dari dalil, intinya Allah Swt. berfirman, “Kebenaran itu
datangnya dari-Ku,
manusia hanya dapat tetesannya
dan menafsirkannya!”


Komentar
Posting Komentar