Cerita Dongeng Terbaik IV
Keledai Pembawa Garam
Pada suatu hari di musim
panas, tampak seekor keledai berjalan di pegunungan. Keledai itu membawa
beberapa karung berisi garam di punggungnya. Karung itu sangat berat, sementara
matahari bersinar dengan teriknya. "Aduh panas sekali. Sepertinya aku
sudah tidak kuat berjalan lagi," kata keledai. Di depan sana, tampak
sebuah sungai. "Ah, ada sungai! Lebih baik aku berhenti sebentar,"
kata keledai dengan gembira.
Tanpa berpikir panjang, ia masuk
ke dalam sungai dan byuur! Keledai itu terpeleset dan tercebur. Ia berusaha
untuk berdiri kembali, tetapi tidak berhasil. Lama sekali keledai berusaha
untuk berdiri. Anehnya, semakin lama berada di dalam air, ia merasakan beban di
punggungnya semakin ringan. Akhirnya keledai itu bisa berdiri lagi. "Ya
ampun, garamnya habis!" kata tuannya dengan marah. "Oh, maaf!
garamnya larut di dalam air ya?" kata keledai.
Beberapa hari kemudian,
keledai mendapat tugas lagi untuk membawa garam. Seperti biasa, ia harus
berjalan melewati pegunungan bersama tuannya. "Tak lama lagi akan ada
sungai di depan sana," kata keledai dalam hati. Ketika berjalan
menyeberangi sungai, keledai menjatuhkan dirinya dengan sengaja. Byuuur!. Tentu
saja garam yang ada di punggungnya menjadi larut di dalam air. Bebannya menjadi
ringan. "Asyik! Jadi ringan!" kata keledai ringan. Namun, mengetahui
keledai melakukan hal itu dengan sengaja, tuannya menjadi marah. "Dasar
keledai malas!" kata tuannya dengan geram.
Keesokan harinya, keledai
mendapat tugas membawa kapas. Sekali lagi, ia berjalan bersama tuannya melewati
pegunungan. Ketika sampai di sungai, lagi-lagi keledai menjatuhkan diri dengan
sengaja.
Byuuur!. Namun apa yang terjadi? Muatannya menjadi berat sekali. Rupanya
kapas itu menyerap air dan menjadi seberat batu. Mau tidak mau, keledai harus
terus berjalan dengan beban yang ada di punggungnya. Keledai berjalan sempoyongan
di bawah terik matahari sambil membawa beban berat di punggungnya.
HIKMAH:
Berpikirlah dahulu sebelum bertindak. Bertindaklah sesuai kemampuan diri
kita. Karena tindakan yang salah hanya akan menyebabkan kerugian bagi kita.
Sumber: Diolah dari Buku Kumpulan Dongeng Anak. 2014.
Ariesty Fujiastuti.

Komentar
Posting Komentar