Dalam Ruang Gerhana: Kumpulan Cerpen (Cuplikan 3)

Dalam Ruang Makan


Namaku Jamhari. Kalau di desa ini terdengar suara ayam-ayam berkokok, pastilah Ibu adalah orang yang pertama kali terjaga dari tempat tidurnya. Kalau dia sudah beranjak dari tempat tidurnya, pastilah hal yang pertama kali disowaninya adalah kamar mandi. Kalau dia sudah masuk di dalamnya, pastilah beberapa liter air bersih yang digayungnya bakal terlempar gemercik ke lantai dan mengalir deras menuju saluran pembuangan air dengan membawa sisa-sisa hadas dari tubuhnya. Kalau dia sudah selesai berurusan dan keluar dari padanya, pastilah wajah keriputnya akan tampak berseri-seri, sepasang lengan tangannya bersemarak, sepasang betis kakinya berkilau, sepasang daun telinganya elok, dan jutaan helai rambutnya tergerai segar.

Lama-kelamaan, kumandang ayam-ayam jago mulai beralih ke kumandang azan. Dengan mukena yang telah tertata rapi dan sajadah yang telah terbentang luas, dia bersalat subuh dengan penuh kekhusyukan. Kalau sudah sampai ke tahap ini, maka tak akan ada siapa pun yang coba-coba mengganggu ketakziman Ibu kepada Sang Hidup, sekalipun hanya seekor nyamuk yang hinggap di rajutan mukenanya.

Kalau salat subuhnya sudah tertunaikan, maka dia duduk bersimpuh dengan memperbanyak bacaan zikir seraya menghitung merjan-merjan tasbih dalam genggamannya. Kalau sudah dirasa kering bibir dan kerongkongannya, maka diletakkan tasbih itu ke permukaan sajadah. Lalu, dia menengadah kepala dan kedua tangannya berkiblat ke hadirat Sang Hidup dengan menunjukkan ekspresi harap-harap cemas.

Tidak ada sesuatu makhluk pun yang tahu persis apa bunyi doa, bahkan isi hati yang dicurahkannya. Namun, dari ekspresi gerak tubuh, intonasi suara, dan mimik muka tampak jelas bahwa doanya bukanlah sembarang doa; sebuah doa yang sangat dia dambakan untuk disegerakan terkabul, terlaksana, tercapai, ataupun semacamnya. Barulah setelah itu, dia membereskan seperangkat alat ibadah dan lekas masuk ke kamar untuk mendandani diri dari segala kerancuan yang tampak pada penampilannya.

Penampilan beres, dia bergerak menuju ke kamar anaknya. Gagang pintu didorong masuk dan ditengoklah wajahku, anak semata wayangnya yang tengah terlelap tidur. Dia sangat berharap agar aku segera terjaga sebelum muncul mentari pagi. Dia memang menyengaja tidak membangunkanku untuk melatih kepekaan putranya terhadap panggilan salat subuh. Dia percaya bahwa ibadah yang sejati adalah ibadah yang berasal dari panggilan hati. Perlahan-lahan dia tutup kembali pintunya.


Penasaran dengan kelanjutan ceritanya?


Dapatkan segera bukunya di sini:

https://www.guepedia.com/Store/lihat_buku/NDI5MQ==

https://www.tokopedia.com/guepedia/dalam-ruang-gerhana


Terima Kasih!

Salam Membaca!

Selamat Menginspirasi!


Komentar

Postingan Populer